
Autisme berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti “sendiri”. Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan komunikasi, sosial, dan perilaku pada anak.Gangguan perkembangan biasanya munculsebelum usia tiga tahun yang menyebabkan anak dengan autisme tidak mampumembentuk hubungan sosial atau mengembangkan komunikasi normal. Anak autis menjadi terisolasi dari kontak dengan orang lain dan tenggelam pada dunianya sendiri yang diekspresikan dengan kegiatan yang di ulang-ulang. Kelainan pada anak autis disebut dengan autism spectrum disorder(ASD). Anak ASD mengalami beberapa kelainan meliputi gangguan fungsi enzim sulfotransferase. Enzim ini tidak berfungsi dengan baik pada anak yang menderita ASD. Apabila terjadi defisiensi dari enzim tersebut menyebabkan gangguan pada metabolism makanan dan zat kimia yang mengandung fenol atau pewarna dan amin seperti pada apel, jeruk, coklat, asam sitrat, coklat dengan sempurna. Enzim sulfotransferase memiliki peran penting dalam memecah hormon, komponen pada beberapa makanan, dan zat yang bersifat toksik bagi tubuh. Sehingga pada anak yang menderita ASD tidak mampu untuk mendetoksifikasi zat toksik tersebut. Terganggunya fungsi enzim tersebut juga bisa menyebabkan kebocoran dinding usus, sehingga protein tidak sempurna seperti gluten dan kasein dapat terabsorbsi. Analisis urin yang menderita ASD menunjukkan 2 puncak utama yang tidak dijumpai pada anak normal. Puncak pertama diidentifikasi sebagai betacasomorphin yang berasal dari susu yang mengandung kasein, sedang puncak kedua diduga merupakan peptida dari gluten. sekitar 80% anak denganASD mengalami kenaikan kadar gluten dankasein.9 Gluten biasanya terdapat dalam gandum tepung terigu atau maizena, oat,barley, dan lain-lain. Produk olahannya dapat berupa kecap, roti, biskuit atau cookies, kue, pastry, pasta, mie, kudapan atau makanan ringan, sereal, donat dan pie. Sedangkan kassein biasanya ditemukan pada susu hewan. Prodak olahan kasein dapat berupa susu, keju, es krim, yoghurt, biskuit dan margarin.10 Bila konsumsi susu yang mengandung kasein dihentikan, kadar betacosmorphin dalam urin menghilang, namun kadar dari gluten tetap ada. Kadar gluten dapat menurun sebesar 26% setelah diet bebas gluten selama 5 bulan. Penurunan sebesar 26% tersebut terjadi karena gluten dapat menembus jaringan tubuh
Gluten dan kasein dapat bertindak sebagai alergen dan menimbullkan reaksi alergi bagi anak yang menderita ASD. Para peneliti melaporkan pada penderita alergi terdapat penurunanhormon seperti kortisol, metabolik. Hormon progesteron dan adrenalin tampak cenderung meningkat bila proses alergi itu timbul. Perubahan hormonal tersebut ternyata dapat mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak . Makanan yang baik bagi anak ASD pada umumnya sama dengan anak normal pada umunya yaitu makanan dengan gizi seimbang dan tetap harus memikirkan aspek pemilihan makanan. Diet yang umumnya diberikan pada anak ASD yaitu diet bebas glutien dan bebas kasein. Berdasarkan hasil penelitian, anak ASD yang mengikuti program diet bebas gluten danbebas kasein mengalami perbaikan yang signifikan dalam perilaku. Meskipun penerapan dari diet ini cukup sulit karena adanya kendala untuk menghindari makanan barat yang amat populer di kalangan anak-anak seperti fried chicken, hamburger, dan pizza yang sebagian besar banyak mengandung gluten. Selain itu, ice creamdan milk chocolate perlu di hindari karena mengandung kasein.
Gluten dan kasein akan merangsang reseptor opioid disistem saraf pusat sehingga menimbulkan gejala klinis pada anak ASD berupa rasa terlalu berbahagia atau dikenal dengan istilah hiperaktif. Oleh
karena itu dibutuhkan suatu terapi untuk mengurangi tingkat hiperaktif pada anak ASD yaitu dengan terapi bebas gluten dan bebas kasein.
#cateringanak #cateringsehat
Penulis : Maria (Nutritionis FitnFunCatering)
Komentar Anda